Anakku, Sapi Perahku

Instagram Photo Competition #merdekabarengReksaDana 2017
August 16, 2017
Berinvestasi Reksa Dana Kini Lebih Mudah di Fitur BukaReksa di Aplikasi Bukalapak
August 21, 2017
Show all

Anakku, Sapi Perahku

Anak-anak kita, malaikat-malaikat kecil yang wangi cologne bayi bercampur bau acem dan bikin kangen, atau jagoan-jagoan kecil berisik yang kerap bandel dan menangis. Siapa sih, yang tak sayang mereka? Ingin rasanya mereka tak pernah tumbuh besar, supaya enggak lepas dari pelukan. Tak ada seorang pun orangtua yang tega menyakiti anaknya. Kita menjaga anak-anak kita dengan seluruh upaya, hingga kalau perlu tak sekali pun mereka digigit nyamuk.

 

Tapi coba tanya sekali lagi, kenapa sih, kita memiliki anak-anak? Kenapa kita rela pergi pagi pulang midnite buat mereka? Sambil malu-malu, kita akan mengakui di dalam hati: supaya mereka jadi orang, lalu ketika aku tua nanti, mereka bisa menanggung hidupku. Hayo, ngaku!

 

Jadi kesimpulannya, kita membesarkan anak-anak kita agar mereka bisa membalas budi kelak? Agar mereka bisa menanggung beban ketika kita tak kuat lagi bekerja dan mengais rejeki sendiri? Pamrih, dong? Sama dong, anak-anak kesayangan kita dengan sapi perah? Yuk, keluar dari lingkaran paham sadis ini. Ada dua kewajiban kita kepada anak-anak kita: menyiapkan mereka agar mampu mandiri menjalani hidup dan menyiapkan diri kita agar tak menjadi beban bagi mereka. Yang pertama, topik untuk lain kali. Yang kedua, mari kita selesaikan di sini.

 

Hidupku, bebanku

Coba tilik, berapa banyak kakak dan adik yang dimiliki orangtua kita? Bandingkan dengan berapa banyak kakak dan adik yang kita miliki. Sejalan waktu, orang cenderung memiliki lebih sedikit anak. Maklum, biaya hidup dan biaya pendidikan naik terus pantang turun. Nah, dengan jumlah anak bak kesebelasan sepak bola, orangtua zaman dulu bisa nyaman mengandalkan anak-anaknya bergotong-royong, untuk mengongkosi hidupnya semasa pensiun nanti.

Orangtua zaman sekarang–alias kita-kita ini beda lagi ceritanya. Punya anak satu atau dua, kita enggak bisa berharap anak-anak kita akan mampu melakukan hal yang sama. Ingatlah, bahwa mereka juga akan berkeluarga dan memiliki tanggung jawabnya masing-masing, dengan beban yang lebih berat karena biaya hidup kian tinggi.

 

Siapkan bekal pensiun

Langkah pertama, tentu menghitung berapa dana pensiun yang cukup. Untuk menjamin kelangsungan dana pensiun, pastikan kita punya sejumlah uang yang bunganya cukup untuk dimakan setiap bulan. Asumsi, biaya hidup sebulan kita adalah Rp1 juta (sama dengan Rp12 juta setahun), sementara bunga deposito (netto setelah pajak) adalah 4% per tahun. Maka, untuk menghasilkan Rp12 juta setahun, kita perlu pokok untuk didepositokan sejumlah Rp300 juta.

Jika biaya hidup kita Rp2 juta, artinya kita perlu mengumpulkan Rp600 juta. Jika biaya hidup kita Rp10 juta, artinya kita perlu mengumpulkan Rp3 miliar. Dengan memiliki jumlah dana pensiun cukup, kita dapat mempertahankan pokoknya dan hanya mengonsumsi bunganya (ini penting, karena kita nggak tau sampai usia berapa kita akan hidup). Kaget dengan besarnya uang yang perlu dikumpulkan? Sama. Saya juga kaget ketika pertama berhitung, mules! Tapi kita cuma punya dua pilihan: berusaha mewujudkan rencana ini atau mengorbankan anak-anak kesayangan kita.

 

Buat saya, cuma ada satu jalan: mulai sesegera mungkin.

 

Yuk, rencanakan masa tua kita dan bersiaplah menjadi papa-mama dan opa-oma favorit.

 

#yaREKSADANAaja #SekarangAja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *