Reksa Dana Terproteksi Pilihanmu?

Begini Cara Mewariskan Reksa Dana
December 12, 2018
Siapkan Dana Darurat dengan Berbagai Jenis Investasi Ini
December 30, 2018
Show all

Reksa Dana Terproteksi Pilihanmu?

Mau coba berinvestasi reksa dana tapi takut tidak aman? Jangan khawatir, kini sudah ada reksa dana terproteksi!

Tapi apa betul berinvestasi di reksa dana terproteksi itu lebih aman? Yuk cari tahu jawabannya!

Mengenal Jenis-jenis Investasi Reksa Dana

Mengapa sih banyak jenis investasi yang berbeda-beda ragamnya?

Tentu saja perkembangan ini disebabkan oleh perbedaan permintaan (demand) dari masyarakat. Jika tidak, untuk apa pihak bank atau lembaga keuangan lainnya repot-repot membuat jenis investasi baru?

Semuanya semata-mata karena setiap manusia berbeda, dan meski bisa dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya, pasti preferensi dalam berinvestasinya juga berbeda. Namun, seringnya ketidaktahuan dan ketidakpedulian masyarakat menjadi sebuah penyesalan di kemudian hari. Ketidaktahuan yang dimaksud di sini adalah ketidaktahuan akan fitur instrumen investasi yang dipilih.

Tahukah Anda? Reksa dana yang memiliki nilai investasi tinggi hanya dimiliki oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia, jumlahnya bahkan tidak sampai 10%. Hal yang melatarbelakangi kecilnya jumlah investor reksa dana di Indonesia adalah ketidaktahuan akan instrumen yang satu ini. Agar Anda tidak menjadi salah satu dari 90% masyarakat yang tidak tahu akan investasi reksa dana, mari mengenal jenis investasi menguntungkan yang satu ini.

Seperti Anda ketahui, terdapat beberapa jenis reksa dana yang memiliki karakteristik berbeda dalam hal return dan risiko, antara lain adalah sebagai berikut:

#1 Reksa Dana Pasar Uang

Reksa dana jenis ini mengalokasikan seluruh investasinya pada pasar uang yang berjangka kurang dari 1 tahun. Seperti, Deposito, SBI, Obligasi yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun, dan surat berharga lainnya.

Reksa dana pasar uang tergolong paling rendah tingkat risikonya, karena relatif tidak terlalu fluktuatif dibandingkan jenis reksa dana lainnya.

Namun potensi keuntungannya hanya berkisar di angka 5% – 7%, sedikit lebih tinggi dari deposito.

Kelebihan mencolok lainnya dari jenis reksa dana ini adalah bersifat likuid atau mudah dicairkan, sehingga umumnya digunakan untuk investasi jangka pendek.

#2 Reksa Dana Pendapatan Tetap

Merupakan jenis reksa dana yang akan menginvestasikan sebagian uang Anda pada efek utang. Komposisinya adalah minimal 80% – 100% pada Obligasi, 0% -20% pada saham atau pasar uang.

Jenis reksa dana yang satu ini mempunyai potensi keuntungan lebih tinggi dari reksa dana pasar uang, di mana tingkat keuntungan dan risiko dari jenis reksa dana ini berkisar antara 7% – 12%.

Reksa dana pendapatan tetap umumnya digunakan untuk investasi jangka menengah (kurang lebih 1 tahun).

#3 Reksa Dana Saham

Reksa Dana Saham (RDS) merupakan jenis reksa dana yang menginvestasikan minimal 80% – 100% asetnya pada instrumen saham, 0% – 20% pada Obligasi dan Pasar Uang.

Meski imbal hasilnya besar, jenis reksa dana yang satu ini juga memiliki tingkat risiko terbesar dibanding reksa dana lainnya. Berinvestasi di sini umumnya lebih sesuai untuk investasi jangka panjang (5 tahun atau lebih), karena hampir seluruh portofolio investasinya dalam bentuk saham, nilai pergerakannya akan mengikuti harga saham yang sangat fluktuatif.

Dengan demikian, RDS umumnya digunakan untuk kebutuhan dana pendidikan anak, dana pensiun atau kebutuhan jangka panjang lainnya.

#4 Reksa Dana Campuran

Reksa Dana ini memiliki alokasi investasi pada 3 instrumen di atas tadi dengan maksimal 79% pada salah satu instrumen antara saham, obligasi, pasar uang.

Jenis reksa dana ini menawarkan tingkat return yang lebih besar dari reksa dana pendapatan tetap. Dengan tingkat keuntungan sekitar 10% – 15 % per tahunnya.

Karena diversifikasinya cukup seimbang, maka reksa dana campuran sering digunakan sebagai investasi jangka menengah hingga panjang.

 

Apa itu Reksa Dana Terproteksi?

Anda tentunya sudah mengetahui bahwa reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang merupakan pola pengelolaan modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi tanpa perlu pusing akan instrumen-instrumen investasi yang tersedia di pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksa dana.

Di samping keempat jenis reksa dana di atas, Anda tentunya pernah mendengar mengenai Reksa Dana Terproteksi atau dikenal dengan Capital Protected Fund (CPF). Reksa dana yang satu ini merupakan jenis reksa dana yang memberikan proteksi atas nilai investasi awal, apabila pemegang unit penyertaan memegang reksa dana tersebut hingga tanggal jatuh tempo melalui mekanisme pengelolaan portofolio investasi.

Secara periodik reksa dana terproteksi juga melakukan pembagian hasil investasi dalam bentuk dividen. Jika dilihat dari namanya, tentu Anda sudah mengambil kesan aman dari investasi reksa dana terproteksi ini. Namun meski demikian, reksa dana ini tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Mengapa demikian?

Secara umum, reksa dana terproteksi menyerupai reksa dana pendapatan tetap yang menempatkan sebagian besar portofolio investasinya pada instrumen surat utang. Namun satu perbedaannya adalah pada mekanisme pengelolaannya, di mana pada reksa dana terproteksi para investor akan membeli surat utang dan menahannya hingga jatuh tempo (hold to maturity). Sedangkan pada reksa dana pendapatan tetap surat utang akan dikelola secara aktif dan jika diperlukan, bisa diperjualbelikan. Nah, unsur proteksinya sendiri muncul akibat mekanisme pengelolaan dengan cara membeli surat utang dan memegangnya hingga jatuh tempo.

Dengan demikian Anda memperoleh unsur proteksi atas investasi awal, dengan catatan bahwa perusahaan yang menerbitkan surat utang tersebut tidak mengalami gagal bayar. Namun seperti dijelaskan di atas, proteksi ini bukan berarti tanpa risiko.

Kemungkinan terburuknya adalah saat perusahaan penerbit surat utang mengalami gagal bayar, di mana dampaknya adalah investor tetap bisa kehilangan pendapatan dividen dan atau nilai awal investasinya. Untuk itu, investor perlu lebih memahami karakteristik dari reksa dana terproteksi seperti yang akan dijelaskan berikut ini!

 

Karakteristik Reksa Dana Terproteksi

Reksa dana terproteksi tentunya memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari jenis reksa dana lainnya.

#1 Penawaran Terbatas

Berbeda dengan reksa dana lainnya, penawaran reksa dana terproteksi sifatnya terbatas baik untuk nominal yang bisa ditawarkan dan juga periode penawarannya.

Umumnya setelah mendapat pernyataan efektif, manajer investasi akan membuka masa penawaran reksa dana yang lamanya maksimal 120 hari kerja.

Terkait jumlah unit penyertaannya, umumnya juga disesuaikan dengan ketersediaan surat utang yang menjadi tujuan investasinya.

Setelah melewati masa penawaran dan jumlah maksimal unit yang ditawarkan, maka investor tidak bisa lagi melakukan pembelian reksa dana terproteksi.

 

#2 Dibatasi Jatuh Temponya

Sebenarnya reksa dana tidak memiliki tanggal jatuh tempo, di mana yang diberlakukan adalah pembubaran atas kesepakatan manajer investasi dan bank kustodian.

Namun pada reksa dana terproteksi, biasanya setelah surat utang yang menjadi portofolio investasi sudah jatuh tempo, maka manajer investasi biasanya akan membubarkan reksa dana tersebut.

Hal ini dikenal dengan istilah  “jatuh tempo” pada reksa dana terproteksi.

Umumnya tanggal pembubaran reksa dana terproteksi bersamaan atau selisih beberapa hari dengan tanggal jatuh tempo surat utangnya.

Namun, ada kebijakan di mana tidak semua manajer investasi memperbolehan pencairan reksa dana terproteksi sebelum tanggal jatuh temponya.

Bagi yang memperbolehkan, jumlah unit yang bisa dicairkan juga terbatas alias tidak bisa seluruhnya.

Konsekuensi bagi investor yang melakukan pencairan sebelum tanggal jatuh tempo adalah kemungkinan hilangnya proteksi atas nilai investasi awal.

Sebab penjualan surat utang menggunakan harga pasar dan jika kebetulan dilakukan pada saat harga turun, maka nilai yang diperoleh juga turun pula.

 

#3 Adanya Indikasi Return

Berbeda dengan reksa dana lainnya, reksa dana terproteksi diperbolehkan memberikan indikasi return.

Besaran indikasi return ini diperoleh dari bunga atau kupon surat utang setelah dikurangi dengan faktor biaya dan pajak. Besaran indikasi return ini harus dicantumkan dalam prospektus dan boleh disampaikan kepada calon investor. Namun tetap harus dijelaskan bahwa terdapat risiko-risiko dalam investasi di reksa dana terproteksi.

 

Kapan Memilih Reksa Dana Terproteksi?

Kesimpulannya, di sini Anda terlebih dahulu harus memahami tujuan keuangan dan kebutuhan Anda sebelum memilih instrumen investasi.

Jika Anda mencari instrumen investasi dengan harapan imbal hasil yang lebih besar dengan modal terbatas, pilih reksa dana yang memang merupakan produk investasi. Namun jika Anda mengharapkan adanya manfaat proteksi, maka Anda bisa melirik reksa dana terproteksi.

 

Artikel ini dikutip dari finansialku.com berjudul “Reksa Dana Terproteksi” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *